Jakarta, Kalau kamu bertanya-tanya ke mana barang buatan Indonesia paling banyak dikirim, jawabannya masih sama: China. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekspor nonmigas Indonesia ke negara itu mencapai US$54,17 miliar dalam periode Januari sampai September 2026.
Angka tersebut dikutip dari Antara, Selasa (3/11/2026). Menurut laporan itu, kenaikan ekspor ke China ditopang nikel dan turunannya, lemak serta minyak hewani atau nabati, dan bahan bakar mineral.
Bukan Cuma China yang Naik
Ateng Hartono, Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, menyebut ekspor nonmigas secara kumulatif ke China, Amerika Serikat, India, dan ASEAN sama-sama meningkat. Sebaliknya, pengiriman ke Uni Eropa dan sebagian tujuan lain justru menurun.
Artinya, pasar ekspor Indonesia memang masih bertumpu pada beberapa negara besar. Ketika permintaan dari satu atau dua negara bergeser, dampaknya bisa terasa ke banyak sektor sekaligus.
Angka Besar Sepanjang Januari–September
Secara keseluruhan, total ekspor Indonesia pada periode yang sama mencapai US$221,23 miliar, naik 5,58 persen dibanding tahun lalu. Ekspor nonmigas menyumbang US$212,27 miliar atau tumbuh 6,30 persen. Sementara ekspor migas sebesar US$8,96 miliar dan turun 9,11 persen.
Penggerak utamanya adalah sektor industri pengolahan. Pada periode ini sektor tersebut tumbuh 8,93 persen secara kumulatif. Dengan kata lain, barang yang sudah diolah di dalam negeri, bukan sekadar bahan mentah, menjadi motor pertumbuhan.
Kenapa Ini Dekat dengan Hidupmu
Ekspor terdengar jauh dari urusan sehari-hari, padahal efeknya nyata. Industri pengolahan menyerap banyak tenaga kerja, mulai dari operator pabrik, teknisi, sampai staf logistik dan keuangan. Kalau ekspor sektor ini sehat, peluang kerja di bidang tersebut ikut terjaga.
Nilai ekspor juga memengaruhi pasokan devisa, yang ikut berperan menjaga kurs rupiah tetap stabil. Buat kamu yang kuliah di jurusan ekonomi, teknik industri, atau logistik, data seperti ini bisa jadi bahan membaca arah pasar kerja beberapa tahun ke depan.
Satu hal yang layak dicatat: ketergantungan pada satu pembeli besar selalu ada risikonya. Tren positif ke Amerika Serikat, India, dan ASEAN menjadi kabar baik karena pasar tujuan mulai lebih beragam, meski Eropa masih menurun.
Data ekspor bukan sekadar deretan angka, tetapi cermin seberapa kuat dapur produksi negeri ini.
Sumber: Antara, BPS
Penulis: Kinara · Editor: Faisal Kusuma Yudha





Tinggalkan Balasan