Jakarta, Partai Demokrat diproyeksikan merebut kendali mayoritas Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Amerika Serikat dari Partai Republik dalam pemilu sela yang digelar Selasa (3/11/2026). Kabar ini beredar pada Rabu (4/11/2026) waktu setempat, dikutip dari detikcom yang mengacu pada laporan AFP.
Angka Sementara di DPR
Stasiun CNN dan CNBC sama-sama memproyeksikan Demokrat menang di DPR. Seluruh 435 kursi DPR diperebutkan pada pemilu ini, dan satu partai butuh minimal 218 kursi untuk menguasai majelis tersebut.
Hitungan sementara CNN menempatkan Demokrat di 178 kursi dan Republik di 105 kursi. Versi CNBC sedikit berbeda: 171 kursi untuk Demokrat dan 105 untuk Republik. Selisih itu wajar, karena penghitungan masih berjalan dan angka belum final.
Kejutan dari Kursi Senat
Yang tak kalah ramai adalah perebutan Senat. Hanya 35 dari 100 kursi Senat yang dipertaruhkan kali ini. Sebelum pemilu, Republik memegang 53 kursi dan Demokrat 47 kursi.
Menurut proyeksi terbaru yang dikutip detikcom, Demokrat berhasil mengambil empat kursi yang sebelumnya dipegang Republik, yaitu di North Carolina, South Carolina, Texas, dan Ohio. Di North Carolina, mantan gubernur Roy Cooper mengalahkan Michael Whatley, mantan ketua komite nasional Republik. Di South Carolina, dokter anak Annie Andrews unggul atas kandidat Republik yang didukung Trump. Di Texas, James Talarico mengalahkan Jaksa Agung Texas Ken Paxton, sementara di Ohio Sherrod Brown menang atas Jon Husted.
Meski begitu, Demokrat juga harus mempertahankan kursi-kursi yang sudah mereka pegang agar bisa benar-benar mengambil alih Senat. Jadi, kendali Senat belum bisa dipastikan sampai penghitungan tuntas.
Dampak bagi Sisa Masa Jabatan Trump
Jika proyeksi bertahan, Demokrat punya wewenang untuk menahan agenda legislatif Donald Trump dan membuka penyelidikan terhadap pemerintahannya. Dua tahun tersisa dari masa jabatan Trump pun akan berjalan dengan Kongres yang tidak lagi searah.
Menurut detikcom, pemilih tampak kecewa pada harga kebutuhan sehari-hari, kebijakan tarif, dan konflik dengan Iran yang mengerek harga BBM. Dukungan publik untuk Trump juga disebut sedang menyentuh level terendah.
Buat kamu di Indonesia, ini bukan sekadar drama politik jauh di seberang samudra. Kebijakan tarif dan harga energi dari Washington biasanya ikut menggerakkan harga barang dan nilai tukar di banyak negara. Ini analisis redaksi, bukan klaim sumber: kalau Kongres menekan arah kebijakan Trump, dampaknya bisa terasa ke pasar global yang juga memengaruhi harga gadget, tiket pesawat, sampai peluang kerja di sektor ekspor.
Pemilu sela ini mengingatkan bahwa satu kotak suara dapat mengubah peta kekuasaan di negara adidaya, dan dunia ikut menunggu angka finalnya.
Sumber: detikcom
Penulis: Kinara · Editor: Faisal Kusuma Yudha





Tinggalkan Balasan