Jakarta, Pelaku usaha asal Shanghai akan membawa isu kecerdasan buatan (AI) dan manufaktur cerdas ke ibu kota lewat Shanghai Fair Indonesia 2026. Pameran ini berlangsung pada 11 sampai 12 November 2026 di JIExpo Kemayoran, seperti dilaporkan Suara.com pada Kamis (5/11/2026).
Apa Saja yang Dibahas
Menurut Suara.com, forum ini mencakup digitalisasi produksi, manufaktur elektronik, teknologi rendah karbon dan energi baru, sirkuit terpadu, hingga low altitude economy yang melibatkan drone. Sesi khusus tentang AI dan manufaktur cerdas dijadwalkan pada 12 November.
Selain itu ada forum soal perdagangan elektronik lintas negara, pengembangan merek barang konsumen, kebijakan ekonomi dan perdagangan Indonesia, layanan keuangan, sertifikasi, serta sumber daya manusia. Perusahaan Shanghai akan memamerkan produk dari lima sektor: barang konsumen, kesehatan, teknologi inovasi, manufaktur, dan perdagangan jasa.
Wakil Ketua Komite Perdagangan Jasa Shanghai Service Federation, Fu Wengang, menyebut Indonesia sebagai pasar yang dinamis. Ia menilai Shanghai kuat di bidang inovasi, manufaktur, dan layanan, dan acara ini bertujuan memperkuat hubungan dagang kedua pihak.
Peringatan dari Komdigi
Di saat yang hampir bersamaan, pemerintah mengingatkan soal posisi Indonesia dalam peta AI. Sekretaris Jenderal Kementerian Komdigi, Ismail, mengatakan banyak negara cemas hanya menjadi pasar teknologi. Dikutip dari CNBC Indonesia, ia menyampaikannya dalam acara Coffee Morning pada Selasa (3/11/2026).
Ismail menyebut masyarakat Indonesia mudah terbawa tren sehingga negara ini menjadi salah satu pengguna AI terbesar di Asia. Menurutnya, anak muda senang memakai AI di berbagai sektor. Dengan 230 juta pengguna internet, ia mempertanyakan mengapa Indonesia belum berbuat lebih dari sekadar menjadi konsumen.
Solusi yang ia tekankan adalah kolaborasi pemerintah dan swasta. Pemerintah menguatkan kebijakan dan regulasi, terutama untuk hak atas data. Sementara urusan lapisan kompetensi seperti komputasi awan dan aplikasi harus dikerjakan bersama.
Artinya Buat Kamu
Dua kabar ini bisa dibaca berdampingan. Pameran seperti Shanghai Fair membuka peluang mengenal teknologi dan rantai pasok industri, tetapi pesan Komdigi jelas: Indonesia perlu ikut membangun, bukan hanya membeli. Bagi mahasiswa dan pekerja muda di bidang teknologi, itu berarti kemampuan membuat solusi, mengolah data, dan memahami manufaktur akan makin dicari.
Pameran ini belum tentu menghasilkan kesepakatan resmi antarpemerintah, namun ia menjadi ruang temu yang bisa dimanfaatkan siapa pun yang ingin melihat arah industri AI dari dekat.
Sumber: Suara.com, CNBC Indonesia
Penulis: Kinara · Editor: Faisal Kusuma Yudha





Tinggalkan Balasan