Jakarta, Ekonomi Indonesia pada kuartal III 2026 diperkirakan masih tumbuh kuat, tetapi lajunya sedikit mengendur. Dua ekonom, dikutip dari Liputan6 pada Rabu (4/11/2026), sama-sama menunjuk ekspor sebagai penopang dan konsumsi sebagai titik lemah.
Dua Angka, Satu Arah
Ekonom LPEM FEB UI Teuku Riefky menghitung PDB resmi kuartal III akan naik 5,28% dibanding tahun lalu (kisaran 5,25–5,30%). Angka itu nyaris sama dengan realisasi kuartal II sebesar 5,29%, yang juga tercantum dalam rilis Kemenko Perekonomian.
Sementara itu, ekonom BCA David Sumual memprediksi pertumbuhan turun tipis ke 5,15–5,20%, lalu naik ke sekitar 5,3% pada akhir tahun. Menurut dia, ekspor dan manufaktur menjadi penopang utama. Ekspor Agustus tercatat naik 6,72%, dengan dorongan dari komoditas seperti CPO, batu bara, emas, dan produk baja.
Konsep “Felt Growth”
Bagian yang paling relevan buat generasi muda ada di istilah felt growth. LPEM FEB UI menghitung pertumbuhan yang benar-benar dirasakan masyarakat di angka 4,74%, lebih rendah dari PDB resmi. Analoginya seperti aplikasi cuaca: ada suhu aktual, ada suhu yang terasa.
Untuk 2026, LPEM FEB UI memproyeksikan PDB resmi tumbuh 5,39% dan felt growth 4,77%. Teuku menulis dalam kajiannya bahwa keuntungan dari pertumbuhan PDB belum tentu dinikmati merata.
Konsumsi dan Kantong Rumah Tangga
Indeks Keyakinan Konsumen rata-rata kuartal III berada di 117,8, turun dari 120,6 pada kuartal II, tetapi masih di zona optimistis. Penurunan paling kentara dialami rumah tangga dengan belanja Rp1,0–2,0 juta sebulan: indeks mereka merosot 4,7 poin menjadi 107,4.
Inflasi September tercatat 3,28%, dengan inflasi harga bergejolak 5,03%. Menurut LPEM FEB UI, kenaikan harga pangan paling memukul kelompok berpenghasilan rendah, sebab sebagian besar uang mereka habis untuk makan.
David menambahkan, penjualan ritel dan indeks belanja masyarakat sama-sama turun, sedangkan daya beli terkikis oleh inflasi dan kurs yang melemah. Sepanjang Januari hingga September, nilai rupiah melemah 6,48%.
Kebiasaan menabung ikut berubah. Pertumbuhan simpanan berjangka naik ke 13,11% (sebelumnya 10,51%), tetapi bagian pendapatan yang disisihkan justru menyusut ke 16,0% dari 17,6%. Laporan itu membaca gejala ini sebagai sikap wait-and-see, baik di dunia usaha maupun rumah tangga.
Apa Artinya buat Kamu
Bagi anak muda yang baru masuk dunia kerja atau merintis usaha, angka PDB yang tinggi tidak otomatis berarti dompet terasa lebih tebal. Ekspor komoditas bisa menopang angka nasional, sementara belanja harian tetap bergantung pada harga pangan dan kurs. Prospek kuartal berikutnya, kata David, masih bergantung pada faktor eksternal seperti konflik geopolitik dan pergerakan harga minyak.
Angka pertumbuhan hanya setengah cerita, sisanya ada di seberapa terasa ia di meja makan.
Sumber: Liputan6, Kemenko Perekonomian
Penulis: Kinara · Editor: Faisal Kusuma Yudha





Tinggalkan Balasan