Nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh level Rp17.185 per dolar AS memicu kekhawatiran publik dan memunculkan anggapan bahwa mata uang Indonesia menjadi salah satu yang terlemah di dunia. Persepsi ini semakin menguat setelah laporan Forbes menyebut rupiah masuk dalam daftar 10 mata uang terlemah pada 2026, bahkan berada di posisi kelima di bawah riyal Iran dan pound Lebanon.

Secara nominal, satu rupiah saat ini hanya bernilai sekitar US$0,000059 atau setara dengan sekitar Rp17 ribu per dolar AS. Namun, angka tersebut tidak bisa langsung diartikan sebagai cerminan lemahnya fundamental ekonomi Indonesia.

Peneliti dari Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menegaskan bahwa kekuatan mata uang seharusnya dilihat dari aspek yang lebih luas, seperti stabilitas, arah pergerakan, dan daya beli.

Menurutnya, meskipun rupiah saat ini berada dalam tekanan, hal tersebut tidak semata-mata menunjukkan bahwa mata uang Indonesia adalah yang terlemah di dunia.

Tekanan terhadap rupiah justru lebih banyak dipengaruhi oleh faktor domestik. Salah satu isu yang sempat ramai dibicarakan adalah rendahnya cadangan emas Indonesia. Namun dalam sistem keuangan modern, emas bukan lagi faktor utama yang menentukan kekuatan mata uang.

Sebagai perbandingan, People’s Bank of China memiliki cadangan emas lebih dari 2.300 ton, sementara Monetary Authority of Singapore sekitar 193 ton. Indonesia sendiri berada di kisaran 85 ton. Meski terdapat perbedaan signifikan, hal tersebut tidak secara langsung menentukan nilai tukar rupiah.

Faktor yang lebih berpengaruh adalah menurunnya kepercayaan investor terhadap aset domestik, yang tercermin dari arus modal keluar. Selain itu, meningkatnya kebutuhan pembiayaan pemerintah serta ruang fiskal yang semakin terbatas turut meningkatkan persepsi risiko di mata pasar.

Struktur ekonomi Indonesia juga dinilai masih rentan, terutama karena ketergantungan terhadap impor dan dominasi ekspor komoditas. Ketika harga komoditas global berfluktuasi, nilai tukar rupiah ikut terdampak.

Di sisi lain, kebijakan moneter juga menghadapi dilema antara menjaga stabilitas nilai tukar dan mendorong pertumbuhan ekonomi. Ketidakpastian arah kebijakan ini turut memengaruhi sentimen pasar.

Dampak pelemahan rupiah tidak hanya dirasakan di level makro, tetapi juga langsung menyentuh kehidupan masyarakat. Kenaikan harga barang impor, meningkatnya biaya produksi, hingga potensi tekanan inflasi menjadi konsekuensi yang harus dihadapi.

Meski demikian, peningkatan cadangan emas tetap relevan sebagai strategi jangka panjang untuk memperkuat ketahanan ekonomi melalui diversifikasi cadangan devisa. Namun langkah tersebut bukan solusi instan untuk mengatasi pelemahan rupiah dalam jangka pendek.

Pada akhirnya, penguatan rupiah sangat bergantung pada perbaikan struktur ekonomi dan pemulihan kepercayaan pasar. Tanpa dua hal tersebut, tekanan terhadap nilai tukar berpotensi terus berlanjut di tengah dinamika ekonomi global yang masih penuh ketidakpastian.

Penulis: Faisal Kusuma

#Rupiah #NilaiTukar #EkonomiIndonesia #DollarAS #Inflasi #Investasi #KiniMedia

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *