
WASHINGTON D.C. — Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengundang para petinggi perusahaan minyak besar AS ke Gedung Putih untuk membahas rencana investasi besar-besaran di sektor energi Venezuela, yang cadangan minyaknya termasuk yang terbesar di dunia. Trump menargetkan minimal US$100 miliar (sekitar Rp1.684 triliun) dana swasta untuk membangun kembali industri minyak negara Amerika Selatan itu setelah bertahun-tahun mengalami penurunan produksi dan krisis infrastruktur.
Trump mengatakan kepada para eksekutif bahwa investasi tersebut berasal dari dana perusahaan minyak itu sendiri, bukan dari anggaran pemerintah AS, namun pemerintah akan memberikan jaminan keamanan dan perlindungan untuk operasional mereka. Trump meyakinkan bahwa perusahaan yang ikut dalam upaya ini akan bisa mengembalikan modal dan meraih keuntungan dari operasi di Venezuela.
Pertemuan yang berlangsung di Ruang Timur Gedung Putih pada Jumat (9/1/2026) itu dihadiri eksekutif dari sejumlah perusahaan besar, termasuk ExxonMobil, ConocoPhillips, Chevron, serta perwakilan dari Halliburton, Valero, dan Marathon.
Respon Perusahaan: Hati-hati dan Syarat Reformasi
Meski Trump mendorong investasi besar tersebut, respons dari para pemimpin industri minyak bersikap lebih berhati-hati. CEO ExxonMobil Darren Woods menyatakan bahwa kondisinya saat ini membuat Venezuela “tidak layak investasi” tanpa adanya reformasi besar pada tata kelola hukum dan komersial negara itu, termasuk perlindungan investasi yang kuat.
Sementara itu, Chevron, yang merupakan salah satu dari sedikit perusahaan AS yang masih aktif beroperasi di Venezuela, menunjukkan kesiapan untuk meningkatkan kapasitas produksi di sana sebanyak sekitar 50% dalam 18–24 bulan ke depan jika kondisi mendukung.
Namun, Exxon dan ConocoPhillips menekankan bahwa perubahan besar dalam kerangka hukum dan investasi di Venezuela diperlukan sebelum komitmen dana besar bisa diwujudkan. Eksxon, misalnya, mengatakan bahwa aktiva mereka pernah disita dua kali oleh pemerintah Venezuela di masa lalu, yang membuat mereka tetap berhati-hati.
Latar Belakang Industri Minyak Venezuela
Venezuela memiliki cadangan minyak mentah terbukti terbesar di dunia, tetapi produksinya telah turun drastis dari lebih 3,5 juta barel per hari di era 1990-an menjadi jauh lebih rendah saat ini akibat infrastruktur yang menurun dan kurangnya investasi asing selama puluhan tahun.
Rencana investasi ini dilihat sebagai bagian dari upaya pemerintahan Trump untuk memanfaatkan potensi energi Venezuela sekaligus menekan harga energi global, namun para analis dan eksekutif industri tetap menunjukkan kehati-hatian tinggi mengingat ketidakpastian politik dan kebutuhan reformasi mendasar di sektor energi Venezuela.
(Faisal/FKY)

