
Jakarta – Anjloknya pasar saham kerap menjadi ujian pertama sekaligus paling berat bagi investor pemula. Grafik yang tiba-tiba memerah, indeks utama jatuh dalam hitungan hari, hingga banjir kabar negatif sering kali memicu satu reaksi yang sama: panik. Padahal, bagi investor jangka panjang, fase penurunan justru merupakan bagian alami dari siklus pasar.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali mengalami tekanan signifikan pada perdagangan Rabu (28/1/2026). IHSG tercatat anjlok 7,71 persen atau 692,47 poin ke level 8.287,76 pada pukul 11.15 WIB. Sejak pembukaan, tekanan jual langsung mendominasi, meski indeks sempat mencoba bangkit sebelum kembali terperosok.
Salah satu pemicu utama kejatuhan pasar adalah keputusan MSCI yang membekukan sementara seluruh perubahan Foreign Inclusion Factor (FIF) dan Number of Shares (NOS) untuk sekuritas Indonesia. Sentimen global ini memicu aksi jual besar-besaran, terutama pada saham berkapitalisasi besar.
Fenomena koreksi tajam sejatinya bukan hal baru. Pada 2022, indeks S&P 500 di Amerika Serikat mencatat penurunan tahunan sekitar 19,4 persen, terburuk sejak krisis keuangan global 2008. Tekanan kala itu datang dari inflasi tinggi, pengetatan suku bunga agresif, dan ketidakpastian geopolitik.
Chief Investment Officer Sarmaya Partners, Wasif Latif, menyebut sell-off kerap terjadi ketika berbagai faktor ketidakpastian bertemu dalam waktu bersamaan. “Semuanya bergabung menciptakan hari yang sangat signifikan bagi investor yang menghindari risiko,” ujarnya.
Lantas, apa yang seharusnya dilakukan investor pemula di tengah kondisi seperti ini?
Pertama, investor perlu menyadari bahwa penurunan adalah bagian dari perjalanan investasi. Saham bukan instrumen bebas risiko, dan volatilitas merupakan harga yang harus dibayar untuk potensi imbal hasil jangka panjang. Manajer aset global seperti Vanguard berulang kali menekankan pentingnya berpegang pada tujuan awal investasi, bukan bereaksi terhadap fluktuasi jangka pendek.
Kedua, hindari keputusan emosional. Menjual saham semata-mata karena takut sering kali justru mengunci kerugian. BlackRock mencatat banyak investor individu kehilangan potensi imbal hasil karena keluar dari pasar di saat yang salah, lalu masuk kembali ketika harga sudah pulih. Prinsip time in the market terbukti lebih penting dibanding timing the market.
Ketiga, investor perlu mengevaluasi kondisi keuangan pribadi, bukan hanya kondisi pasar. Jika dana yang diinvestasikan adalah dana jangka panjang dan dana darurat sudah aman, tekanan pasar seharusnya bisa dihadapi dengan lebih tenang. Banyak investor terpaksa menjual di harga rendah bukan karena strategi keliru, melainkan karena kebutuhan likuiditas mendesak.
Keempat, disiplin rebalancing portofolio kerap diabaikan. Saat pasar saham turun dan porsi saham menyusut, rebalancing berarti membeli kembali saham untuk mengembalikan komposisi sesuai profil risiko. Meski terasa kontra-intuitif, pendekatan ini dipandang sebagai cara sistematis membeli aset di valuasi lebih rendah.
Kelima, bagi investor yang masih memiliki dana segar, menambah investasi secara bertahap melalui strategi dollar-cost averaging dinilai lebih aman dibanding masuk sekaligus.
Keenam, peluang memang muncul di tengah ketakutan, tetapi selektivitas tetap krusial. Investor legendaris Warren Buffett terkenal dengan prinsip, “Takutlah ketika orang lain serakah, dan serakahlah ketika orang lain takut,” namun tetap menekankan pentingnya fundamental bisnis yang kuat. Bagi pemula, instrumen terdiversifikasi seperti reksa dana indeks atau ETF kerap menjadi pilihan lebih rasional.
Pada akhirnya, pasar saham yang anjlok sering kali menjadi ruang belajar paling berharga bagi investor pemula. Sejarah menunjukkan pemulihan kerap datang setelah periode paling menegangkan. Keputusan yang diambil saat pasar jatuh akan sangat menentukan hasil jangka panjang.
Alih-alih bereaksi terhadap ketakutan, investor yang mampu bertahan, mengevaluasi strategi, dan tetap rasional memiliki peluang lebih besar untuk tumbuh bersama pasar ketika kondisi kembali membaik.
#KiniMediaJakarta #KiniMedia #KiniMusik
#IHSG #PasarSaham #InvestorPemula #EdukasiInvestasi #EkonomiIndonesia #MSCI

