
Jakarta – KiniMedia – Kalau lo sering denger orang Betawi bilang “gue” buat diri sendiri dan “elu” buat orang lain, itu bukan sekadar gaya ngomong santai, tapi bagian dari warisan budaya Betawi yang kaya.
Saat mampir ke Pameran Plesir Betawi Pesisir di Rumah Si Pitung, Jakarta Utara (22/10/2025), Kompas.com sempat melihat penjelasan menarik soal asal-usul sapaan ini. Bahasa Betawi, khususnya di pesisir, terbentuk dari akulturasi berbagai budaya: Sunda, Jawa, Bali, Tionghoa, Portugis, Belanda, Bugis, dan lain-lain. Makanya, kosakata Betawi nggak cuma unik, tapi juga penuh sejarah.
“Secara umum, Bahasa Betawi adalah Bahasa Melayu-Jakarta yang kemudian diperkaya kosakata dari bahasa-bahasa lain,” tulis papan informasi di pameran.
Nggak cuma kata-kata, dialek Betawi juga beda-beda tergantung wilayah. Misal, di pesisir seperti Tanjung Priok, paman disebut “encing”, sementara di Jakarta Selatan, orang Betawi lebih sering bilang “mamang” karena pengaruh bahasa Sunda.
Lalu, kapan nama “Betawi” muncul? Istilah ini baru dipakai antara 1815–1893, dan resmi dicatat pada 1930. Ada beberapa teori soal asal usulnya, mulai dari kayu akasia guling Betawi yang jadi gagang keris, hingga adaptasi dari kata kolonial “Batavianen” menjadi “Betawi.”
Buat lo yang penasaran, budaya Betawi bisa dijelajahi langsung di Pameran Plesir Betawi Pesisir, Rumah Si Pitung, lengkap dengan sejarah, adat, hingga kosakata khas mereka.
Penulis: Faisal/FKY
#KiniMediaJakarta #BudayaBetawi #GueElu #BetawiHits #WisataJakarta #PlesirBetawi

